Apakah Automasi Menimbulkan Pengangguran?

Manusia vs Mesin
[Mohammed Hassan, pixabay]

Teknik automasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk merekayasa sistem maupun alat sehingga sistem/alat tersebut dapat bekerja menggantikan manusia. Oleh karena itu, ketika automasi semakin meluas di berbagai bidang, muncullah pertanyaan di atas dari bidang ketenagakerjaan.

Automasi di berbagai bidang merupakan cita-cita yang diimpikan oleh para insinyur automasi. Cita-cita ini bukan semata menjadi wujud eksistensi para insinyur, tetapi juga merupakan buah keinginan insinyur automasi untuk memudahkan kehidupan umat manusia. Walaupun demikian, cita-cita tidaklah selalu menjadi kenyataan. Setidaknya, cita-cita dapat mendorong seseorang untuk terus berpikir dan berusaha untuk mencapai target-targetnya.

Ketika membicarakan automasi, kita harus menyadari bahwa akan senantiasa ada hal-hal yang membutuhkan campur tangan manusia. Mesin tidaklah mungkin bisa mengambil alih semuanya. Oleh karena itu, frasa ‘automasi menimbulkan pengangguran’ merupakan hal yang perlu ditelaah ulang.

Terlebih, ketika membicarakan usaha dan bisnis, automasi tidaklah selalu menjadi pilihan para pengusaha dan pebisnis. Automasi hanya akan diterapkan, setidaknya, jika

  1. automasi memberikan hasil yang secara signifikan lebih cepat dan lebih baik (secara kualitas maupun kuantitas) daripada penggunaan tenaga manusia; dan
  2. biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan automasi dapat tertutupi dengan hasil yang diperoleh sistem automasi atau bisnis keseluruhan.

Sangat mungkin, terdapat pertimbangan selain dua syarat di atas untuk penerapan sistem automasi.

Selanjutnya, ketika automasi telah diterapkan, tentu pekerja yang sebelumnya mengerjakan pekerjaan ‘si mesin’ akan kehilangan sesuatu yang biasa dikerjakannya. Namun, hal tersebut tidaklah lantas menjadikan automasi sebagai penyebab ‘pemecatan pekerja’ ataupun ‘menciptakan pengangguran’. Penerapan automasi justru bisa berarti

  1. pengurangan beban pekerja sehingga pekerja tidak melakukan pekerjaan yang terlalu banyak;
  2. pengalihan pekerja dari satu jenis tanggung jawab ke tanggung jawab lain yang lebih membutuhkan tenaga manusia; atau
  3. meningkatkan intelektualitas pekerja sehingga dapat mendukung operasi, perawatan, maupun supervisi suatu sistem automasi.

Dengan demikian, hakikatnya, automasi memang ditujukan untuk memudahkan kehidupan manusia. Hal ini tentu merupakan rezeki yang harus disyukuri, yaitu rezeki berupa kemudahan dalam melakukan sesuatu. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika harus terjadi perampingan pekerja setelah penerapan suatu sistem automasi.

Ketika suatu sistem automasi diterapkan, pembatasan penerimaan pekerja baru memang wajar dilakukan. Sementara itu, pemberhentian pekerja lama merupakan hal yang masih bisa dicarikan solusi atau bahkan diupayakan agar tidak terjadi.

Di sisi lain, pembatasan penerimaan pekerja baru pun bukan membenarkan klaim ‘automasi menimbulkan pengangguran’. Hanya saja, bagi pelamar yang gugur, memang belum rezekinya untuk bekerja di tempat tersebut bukan?